» Banjir DKI seperti Tsunami, Warga Pengungsi: Ini benar-benar yang Namanya Menderita
Jika suka, jangan lupa untuk bagikan ya!
Article information
  • Tanggal: 6-02-2018, 18:29
6-02-2018, 18:29

"Banjir DKI seperti Tsunami, Warga Pengungsi: Ini benar-benar yang Namanya Menderita"


Banjir DKI seperti Tsunami, Warga Pengungsi: Ini benar-benar yang Namanya Menderita

“Itu sudah bukan siaga 1 lagi, tapi sudah seperti tsunami. Rumah-rumah pada roboh, pohon-pohon hanyut, semua habis.”

Itulah kesaksian Neneng (60) saat luapan air Sungai Ciliwung menerjang rumahnya di RT 05/RW 08 Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (5/2/2018).

Sambil membenarkan letak alas tidurnya dari kardus, Neneng terus menggerutu sembari bersyukur atas apa yang terjadi.

“Ini benar-benar yang namanya menderita. Tapi bersyukur saya masih diberi umur panjang, yang penting tidak mati di sungai,” ujar Neneng kepada Tribunnews.com, Selasa (6/2/2018).

Ia mengungsi di Masjid Al Makmuriyah yang tak jauh dari rumahnya.

Neneng masih mengingat, sekitar pukul 06.00 WIB air Sungai Ciliwung masih berjarak sekitar lima meter dari rumah.

Dua jam kemudia, tepatnya pukul 08.00 WIB air sudah mulai masuk rumah dan puncaknya sekitar pukul 14.00 WIB, air sudah sepinggang Neneng.

"Saya langsung lari ke rumah tetangga. Saya sama delapan orang lainnya langsung naik ke atap, dari situ saya lihat air terus menerjang rumah-rumah di sini, sudah seperti tsunami,” ucap dia.

Saat itu rumah-rumah warga roboh, pohon bambu, pohon pisang juga hanyut, termasuk kandang ayam sementara ayamnya kocar-kacir.

Saat itu kondisi rumah kontrakan Neneng sudah sepenuhnya ditutupi air.

“Di rumah tetangga di lantai duanya saja air setinggi dada, kalau tidak cepat naik bisa-bisa mati kita semua. Rumah saya sudah tenggelam itu, atap asbesnya sudah hanyut terbawa air,” dia menambahkan.

Kekhawatiran Neneng dan warga lainnya belum habis.

Dalam kondisi berselimut dingin dan kuyup di atap rumah selama 10 jam, Neneng dan warga lainnya berhasil dievakuasi petugas SAR pukul 24.00 WIB menggunakan perahu.

"Perahunya kecil jadi harus bolak-balik tiga kali. Di atas atap pada menangis semua, kalau air tambah tinggi sudah tidak selamat kita,” ujar wanita pemulung itu.

Keesokan harinya, Neneng bersama tetangganya memutuskan tetap bertahan di masjid.

“Lebih baik di sini dulu, kalau pulang listrik tidak ada, lumpur di rumah selutut, atap asbes rumah tidak ada, nasi tidak punya, gerobak memulung sudah hanyut, tidak punya uang hanya tinggal Rp 2 ribu,” keluh dia.

“Besok masih harus ganti gerobak yang hanyut, harganya Rp 300 ribu. Nanti nyicil,” ucap dia.

Dengan kondisi seadanya Neneng merasa nyaman di lokasi pengungsian.

“Walaupun kemarin seharian tidak makan, hari ini selalu tertib makan kalau sudah waktunya. Dapat bantuan beras, minyak, gula, dan lain-lain. Kalau sekarang butuh pakaian, yang bekas-bekas tidak apa-apa, ini sudah dua hari tidak ganti lepek kena air hujan,” jelas dia.

Sebanyak 500 kepala keluarga terdampak akibat banjir yang melanda kawasan tersebut pada Hari Senin lalu.

Banjir sempat mencapai ketinggian 1,8 meter sebelum surut pada Selasa siang.

Artikel ini disalin dari:
TribunNews.com
Loading...
Dear visitor, you are browsing our website as Guest.
We strongly recommend you to register and login to view hidden contents.
close
Loading...
^