» Gerindra-PKS-PAN Kembali Mesra, Polarisasi Politik 2014 Bisa Terulang
Jika suka, jangan lupa untuk bagikan ya!
Article information
  • Tanggal: 25-12-2017, 22:29
25-12-2017, 22:29

"Gerindra-PKS-PAN Kembali Mesra, Polarisasi Politik 2014 Bisa Terulang"


Gerindra-PKS-PAN Kembali Mesra, Polarisasi Politik 2014 Bisa Terulang

Pengamat Politik dari Universitas Paramadina, Arif Susanto, menilai ada potensi polarisasi politik pada Pemilu 2014 terulang kembali pada Pilkada Serentak 2018.

Hal itu terlihat dari kesepakatan Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) berkoalisi untuk sejumlah daerah penting pada Pilkada 2018. Tak menutup kemungkinan koalisi tersebut semakin solid dan berlanjut hingga Pemilu 2019.

Adapun tiga partai tersebut sebelumnya sempat tergabung dalam Koalisi Merah Putih (KMP) pada Pemilu 2014. Namun, PAN dalam perjalanannya bergabung dengan pemerintah.

"Politik akan kembali mengalami polarisasi politik yang mirip 2014. Buktinya, Gerindra-PKS-PAN sudah membuat kesepakatan, meskipun kita juga harus bikin catatan," ucap Arif dalam sebuah acara diskusi di bilangan Setia Budi, Jakarta Selatan, Selasa (26/12/2017).

Polarisasi politik, menurut dia, menjadi salah satu penyebab politik identitas subur dalam suatu daerah.

Ia menambahkan, model-model politik kebencian sebetulnya sudah dimunculkan pada tahun-tahun sebelumnya. Namun, efek yang ditimbulkan tak terlalu kuat.

Efek politik identitas menjadi sangat kuat pada 2017, terutama pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta. Sebab, saat itu terbentuk polarisasi politik yang amat tegas, yakni pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno berhadapan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat.
"Dengan polarisasi yang tegas maka sangat mudah bagi elite politik untuk memicu konflik yang menyebabkan pembelahan masyarakat," tuturnya.

Meski Pilkada DKI Jakarta merupakan pemilu skala daerah, namun Jakarta memiliki efek yang sangat luas bukan hanya pada daerah sekitarnya tapi juga secara nasional.

Arif menilai cukup aneh polarisasi pada Pemilu 2014 masih terbawa hingga saat ini. Seharusnya, kata dia, dalam politik yang ideal, ketegangan di level massa diambil alih oleh elite supaya tak terjadi benturan horizontal.

Sedangkan saat ini, seolah konflik yang dilakukan elite justru diikuti dengan konflik di level masyarakat.

"Kalau sampai 2017 kita masih terus menerus tegang, berarti ada yang salah. Ada kemungkinan terus menegang. Karena ada satu pola yang keliru," kata dia.

Artikel ini disalin dari:
Dear visitor, you are browsing our website as Guest.
We strongly recommend you to register and login to view hidden contents.
^